Pemimpi yang Ditatah oleh Kegagalan


Pada 24 Oktober 2006, gemuruh takbir bumi Bung Karno di hiasi oleh tangisan seorang putra sulung seorang petani dan guru yang diberi nama Firdausa Tunggal Bagaskara.  Firdausa yang berarti keindahan surga menjadi doa dan harapan yang luar biasa bagi pasangan Bapak Ahmad Ayub Bagaskara dan Ibu Yayuk Pambarep Sulistyowati. Firda kecil sangat terampil dalam berbahasa sehingga Ayahnya menyekolahkannya ke PAUD Riyadlotul Uqul yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya. Namun, semangat belajar Firda kecil terlalu cepat sirna dan akhirnya ia pun tidak melanjutkan pendidikannya di PAUD dan lebih memilih bermain di rumah. Beberapa bulan setelahnya, ia melangkahkan kaki kecilnya ke taman kanak-kanak TK Al-Hidayah, memulai perjalanan panjangnya di dunia pendidikan yang kelak akan membentuk hidupnya. Masa cerianya masih berlanjut hingga ke tingkat sekolah dasar tepatnya di MI MISRIU yang juga hanya berjarak belasan langkah dari rumahnya. Selama menempuh pendidikan di taman kanak-kanak dan sekolah dasar, ia tergolong aktif mengikuti kegiatan dan lomba-lomba yang beragam, mulai dari olimpiade, menyanyi, menggambar, pidato, hingga senam kreasi anak. 


Perjalanan pendidikannya tak berhenti di situ. Firda melangkah lebih jauh dan akhirnya diterima di MTsN 1 Blitar, salah satu sekolah menengah islam terbaik di daerahnya, tempat ia mulai menempa diri dengan lebih serius. Namun, takdir memiliki rencana berbeda. Firda terpaksa merelakan masa sekolah menengah pertama-nya, terhenti selama lebih dari dua tahun, menghabiskan hari-harinya di rumah akibat pandemi virus corona yang melanda. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” adalah lafadz dari surah Al-Insyirah yang menjadi motivasi hidup bagi Firda dalam menjalani hari-hari nya di rumah waktu itu. Masa putih biru Firda berlalu begitu saja tanpa adanya hal spesial yang membekas bagai batu yang dingin dan tak berbentuk, tidak mampu merasakan atau memberi rasa. 


Karena pandemi yang melanda, ia tidak terlalu memikirkan pilihan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia memilih untuk patuh pada keputusan orang tuanya dan akhirnya bersekolah di MAN 3 Blitar, salah satu sekolah menengah atas  negeri di daerahnya. Lagi-lagi ia lebih memilih bersekolah di sekolah islam daripada sekolah umum di daerahnya. Seribu sesal ia cacikan kepada dirinya yang lebih memilih bersekolah di sana daripada di SMA favorit yang menjadi incaran teman sebayanya. Namun, emas tetaplah emas meskipun berada di kubangan lumpur. Bangun dari keterpurukannya, Firda mulai berusaha keras belajar dengan menggenggam satu harapan ingin membanggakan kedua orang tuanya.


Seperti mendaki puncak tak berujung namun langkahnya tak pernah surut. Firda mengambil segala kesempatan yang diberikan sang kuasa kepadanya. Pada semester pertamanya belajar di MAN 3 Blitar dia berhasil meraih juara paralel pertama meninggalkan 300 teman dibelakangnya. Karena hal itu, ia memberanikan diri mengikuti Study Club Fisika yang merupakan salah satu ekstrakulikuler di sekolahnya. Bagai batu yang dikikis oleh tetesan air, pemikiran Firda mulai berubah dari yang awalnya membenci pelajaran berhitung seperti fisika sampai akhirnya  menjadi cinta kepadanya. Di tahun pertamanya mengikuti Study Club, ia berkesempatan mengikuti KOSSMI (Kompetisi Siswa Muslim Indonesia), salah satu ajang bergengsi yang mengadu pengetahuan siswa muslim di seluruh Indonesia. Ia terpilih mewakili sekolahnya dalam bidang fisika level 4 dan berhasil melaju ke babak semifinal. Namun, langkahnya terhenti sebelum mencapai babak berikutnya. Kegagalan itu meninggalkan jejak, membuatnya sedikit terpukul oleh keadaan.


Tak kenal kata menyerah, ia langkahkan lagi pemikirannya ke ajang bergengsi lainnya. OSN (Olimpiade Sains Nasional) ia gagal kedua kalinya , KSM (Kompetisi Sains Madrasah) ia gagal ketiga kalinyai, VPC (Velocity Physics Competition) ia gagal keempat kalinya, NuPhO (Nucleon Physic Olimpiade) ia gagal kelima kalinya, Electra (Electrical Competition Tour and Rally) ia gagal untuk keenam kalinya. Dengan kegagalan sebanyak biji manggis tidak mengecilkan hati Firda. Ia tetap belajar dengan sungguh-sungguh dan tetap percaya bahwa rezeki sudah ditata oleh sang pencipta. “Ya Allah, sudah banyak kesempatan yang engkau berikan kepada hamba, tapi belum ada yang menjadi rezeki hamba, apakah hamba memang layak untuk semua ini?” keluhnya sesekali. 


Menginjak tahun kedua, Tuhan membuka jalan baginya sekali lagi, untuk berjuang di lomba yang pernah ia ikuti setahun sebelumnya. Seperti ulat yang baru berubah menjadi kupu-kupu, ia bangkit lebih kuat dan berhasil mendapatkan beberapa penghargaan. Di mulai dari meraih juara 1 OSN-K bidang fisika, juara 1 KSM-K bidang fisika,  peringkat 10 KSM-P bidang fisika, dan berhasil meraih juara harapan di ajang KOSSMI bidang fisika level 4 mengalahkan ribuan ratusan fisikawan muda Indonesia. Tentunya semua hasil yang ia dapatkan merupakan rezeki dan kesempatan yang sudah ditata oleh sang kuasa. Kini beberapa mimpinya dahulu  telah tercapai. Sekarang ia memiliki mimpi baru yang tak kalah hebat dari mimpi-mimpinya sebelumnya. Dan kini kita tinggal menunggu kelanjutan perjalanan hidupnya. Meskipun tak ada hal menarik dari kisah hidupnya, bukan berarti kisah hidupnya tak berarti dan hampa. Karena tidak setiap orang dilahirkan langsung berada di puncak, ada banyak orang seperti Firda yang harus memulai kisahnya dari bawah. Kisah ini bukan sekadar deretan prestasi, melainkan tentang keberanian menghadapi setiap rintangan yang datang. Ia telah membuktikan bahwa dengan keteguhan hati dan tekad yang tak tergoyahkan, setiap mimpi yang tampak jauh bisa digapai, dan setiap badai yang menghadang hanya menguatkan langkahnya menuju puncak. 

 Dengan keteguhan hati, setiap mimpi yang tampak jauh bisa digapai, dan setiap badai hanya menguatkan langkah menuju puncak

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.